Member Area

CLOSE

Please Use Portrait
 

Sudah Saatnya Menabung dengan Cara Baru

Sudah Saatnya Menabung dengan Cara Baru

Tabungan tanpa biaya bulanan menjadi daya tarik tersendiri bagi calon nasabah membuka rekening baru. Sayangnya, tak ada model menabung konvensional yang bebas biaya bulanan dan potongan ini-itu.

Tabungan konvensional pada umumnya menerapkan biaya administrasi yang besarnya bervariasi mulai dari ribuan rupiah per bulan hingga Rp 20 ribu per bulan. Selain potongan tersebut, ada lagi yang namanya biaya penalti, dimana pemilik rekening dengan saldo kurang dari jumlah minimal yang ditetapkan bank biasanya dikenakan penalti.

Tak hanya itu saja, ada lagi biaya transfer dan tarik tunai antar bank. Besaran biaya ini bervariasi mulai dari Rp 6.500 per transaksi. Lanjut lagi, ada juga biaya penggantian kartu kredit yang hilang atau rusak dan biaya pembayaran tagihan via ATM.

Bayangkan saja kalau kita menabung dengan nominal kecil maka saldo bukannya makin bertambah, tetapi terkuras pelan-pelan karena potongan ini-itu. Rasanya kita lebih memilih menyimpan uang di bawah bantal, daripada harus menyimpannya di bank dengan biaya administrasi bulanan yang tak ketulungan.

Kalau pun muncul model tabungan yang bebas biaya administrasi, tapi toh harus ada minimal setoran awal untuk mendapatkan bunga tertentu, biaya ganti buku tabungan karena penuh, hilang atau rusak dan masih banyak lagi syarat-syarat lainnya.

Tokoh dan Pakar Bicara

Seiring dengan kemajuan tingkat melek literasi keuangan masyarakat, banyak orang kini mulai mengkritisi model menabung di bank. Sejumlah tokoh dan pakar pun “menggugat”. Tokoh dunia R. Buckminster Fuller berkata, ”Kekayaan kita dicuri melalui uang kita. Mengapa menabung uang?”.

Tokoh perbankan Indonesia Darmin Nasution juga pernah geram dengan perbankan yang mengeruk keuntungan besar dengan berkata, “Selain biaya dana, tingginya biaya operasional ditambah dengan kerakusan bank mengumpulkan keuntungan, juga mempengaruhi pembentukan suku bunga kredit yang yang tinggi. Ini sesuatu yang menurut saya tidak adil dan tidak wajar.”

Lebih keras lagi tentu saja statement ekonom dari Universitas Indonesia Faisal Basri yang berkata, “Sebodoh-bodohnya orang di Indonesia adalah orang yang menabung di bank. Di negara ini, jika seseorang menabung di bank maka uang yang bersangkutan bukan akan bertambah, tetapi malah berkurang.”

Siapa coba yang tidak tergelitik untuk mendalami pemikiran kritis ini. Tokoh-tokoh ekonomi dan perbankan ini tentu tak asal bicara.

Selain potongan dan biaya administrasi ini-itu, anak-anak pun tahu kalau menabung di bank bunganya kecil. Bunga yang kecil tak sebanding dengan tingkat inflasi. Nilai uang pun tergerus dari waktu ke waktu.

Menabung di bank memang mendapatkan bunga. Namun apa daya, masyarakat kita tak banyak yang tahu, meski ada bunga tabungan, uang kita sebenarnya menyusut. Bunga tabungan terlalu kecil.

Inflasi adalah pencuri nilai uang kita. Inflasi di Indonesia biasanya lebih tinggi dari bunga tabungan. Inflasi menggerus nilai uang kita. Bunga tabungan terlalu kecil jika dibandingkan dengan tingkat inflasi. Uang kita secara nominal memang tidak berubah, tetapi nilai uang merosot seiring dengan pergantian waktu. Tak hanya merosot, kita sejatinya malah minus.

Darmin Nasution dalam bukunya “Bank Sentral Itu Harus Membumi” (GalangPress:2013) tak hanya menyoroti soal “kerakusan bank”, tetapi juga bicara jujur soal suku bunga kredit yang tinggi dan mencekik. “Ini sesuatu yang menurut saya tidak adil dan tidak wajar. Bagaimana mungkin masyarakat kecil yang produktif bisa mengembangkan usahanya kalau belum apa-apa suku bunga bank sudah menghadang?.... Harus ada solusi yang jitu untuk menembus keserakahan bank memupuk keuntungan,” tulisnya.

Apa yang dituliskan Darmin Nasution ini bisa dengan mudah dirasakan. Bank memang membayarkan bunga pada para penabung (nasabah), tetapi perbedaan antara bunga pinjaman dan bunga penabung terlalu lebar. Bunga tabungan dan deposito sangat kecil, tetapi ketika harus meminjam entah buat modal usaha, KPR, kredit pemilikan motor atau mobil bunganya selangit.

Yang Lebih dari Tabungan

Masyarakat Indonesia yang gemar menabung jelas mendambakan platform menabung modern yang bebas biaya bulanan dan lebih dari tabungan konvensional. IPOTPAY menjadi solusi bagi mimpi masyarakat Indonesia.

IPOTPAY menjadi solusi cerdas menabung dengan cara termodern. Menyimpan uang di IPOTPAY tanpa biaya admin, tanpa minimum saldo, tanpa limit transaksi dan bisa transfer tanpa potongan biaya apapun.

Lebih dari itu, IPOTPAY memaksimalkan hasil saldo nasabah dengan fleksibilitas tanpa batas melalui layanan penempatan dana secara otomatis di reksadana pasar uang dengan hasil setahun terakhir di kisaran 7-9% per tahun. Hasil di kisaran ini lebih tinggi dari bunga tabungan konvensional.

IPOTPAY memang bukan platform biasa. IPOTPAY hadir dengan fitur-fitur unggulannya mulai dari pembayaran, pembelian, transfer uang, smart calendar, top up e-wallet, mutasi saldo, histori transaksi hingga pengaturan savings.

Berbagai layanan pembayaran seperti kartu kredit, BPJS Kesehatan hingga listrik/PLN tinggal pencet. Fitur pembelian pun lengkap dengan fitur pembelian voucher pulsa, token PLN hingga top up e-wallet.

Tak hanya itu saja, IPOTPAY juga makin kaya dengan fitur transfer dana tanpa limit di hari yang sama. Semua bisa dilakukan secara online di genggaman tangan dengan gadget atau smartphone. "Click and Done" untuk semua transaksi dalam hitungan detik setelah mendaftar di sini atau unduh langsung aplikasi IPOTPAY di Play Store atau App Store .

Butuh Info Lebih Lanjut?

Hubungi 021 5793 1200 atau email ke support@indopremier.com